Belajar dari anak Singapura


Rabu, 30 Mei 2012

Semua dimulai dari hari kemarin, ketika kuliah Pengantar Teori Ukuran dan Integral Lebesque. Waktu itu tiba2 ada tawaran untuk menemani “tamu” jalan-jalan ke Borobudur dan Kraton Jogja. Kukira “tamu” nya siapa, ternyata prof Ho dan keluarganya dari Singapura. Sangat menarik sekali, karena bisa sambil belajar speaking English gratis, hehe. Tapi tetep aja, dengan logat Jawa terlihat kaku dan ndak lancar ketika berbicara. Whatever, yang penting satu sama lain bisa memahami isi dari percakapan.

Singkat cerita, pukul 09.00 WIB kami sudah berkumpul di Mipa Utara. Selanjutnya menunggu mobil, dan berangkat dari kampus menuju taman pintar. Setelah dari taman pintar, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 langsung deh santap siang. Nah, setelah shalat Dhuhur dan istirahat perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini ke Borobudur, kurang lebih pukul 13.15 berangkatnya. Karena udah makin sore, akhirnya pukul 15.30 kami berjalan keluar area candi.

Ada kejadian yang menurutku cukup menarik ketika berjalan keluar candi. Didepan kami, ada sekawanan tourist lokal yang tiba-tiba memotong jalan dengan belok kiri dan melewati taman. Kurasa mereka memang sengaja menggeser bambu yang memang sengaja diletakkan disitu supaya orang tidak bisa lewat. Kemudian karena Sam ( putra laki-laki dari prof Ho ) berjalan paling depan, dia segera mendekati jalan itu. Sontak kami pun mengingatkan dia supaya berjalan di arah yang benar, dan tidak ikut-ikutan orang-orang tadi. Tapi ternyata dugaanku meleset jauh, ketika ia mendekati jalan pintas tersebut ia justru malah memasang kembali bambu di tempatnya. Selanjutnya ia berjalan sesuai arah yang sudah disediakan pihak pengelola. Sungguh perbuatan yang menurutku amat sangat jarang terjadi di Indonesia.

Kalau dilihat sih sebenarnya hal itu biasa saja, kan cuma nggeser bambunya ke tempat semula. Tetapi menurutku cukup mendalam maknanya. Disitu aku bisa belajar, bagaimana orang Singapura sangat patuh pada peraturan. Nampak jelas ia tidak hanya mematuhi peraturan, tetapi menegakkan peraturan yang berlaku. Perbuatannya sih memang kecil, tapi dari yang kecil itulah pada akhirnya menimbulkan sesuatu yang besar. Dari situ kemudian aku berfikir, andaikan orang Indonesia sebagian besar memiliki jiwa seperti itu, pasti Indonesia sangat maju.Akhir kata,

” Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar, tetapi untuk dipatuhi dan dilaksanakan. Kalau masih saja dengan mudah melanggar peraturan, apa bedanya manusia dengan binatang? “

4 thoughts on “Belajar dari anak Singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s