Maya dan Peri Listrik


Maya dan Peri Lampu

Tersebutlah sebuah negeri yang sangat makmur. Rakyatnya hidup damai dan sejahtera. Di negeri itu laksana tidak ada malam. Bila petang datang, jutaan lampu akan bersinar terang menjangkau seluruh pelosok negeri.

Maya, seorang gadis kecil, sangat bahagia hidup di negeri itu. Maya menghabiskan waktunya hanya dengan berdiam di dalam rumah. Maya dan anak-anak lain tidak pernah keluar rumah untuk bermain-main dengan teman mereka. Sehari-hari, Maya dapat menonton televisi sesuka hati. Bila bosan, ia dapat menyalakan berbagai alat-alat elektronik di rumahnya. Di kamar Maya terdapat banyak ratusan lampu beraneka warna dan rupa. Ada yang ditempel di dinding, ada yang diletakkan di atas meja dan lantai, ada pula yang digantung. Maya selalu menyalakan lampu-lampu kamarnya sepanjang hari.

Suatu hari, ketika Maya asyik melihat-lihat lampu di kamarnya, lampu dengan hiasan patung peri terlihat berkedap-kedip. Sebentar nyala, sebentar padam. Maya mendekati lampu itu. Tiba-tiba, patung peri pada lampu tersebut bergerak. Peri itu terbang mengitari kepalanya seraya mengeluarkan cahaya yang kemilau. Maya mengulurkan tangannya. Peri itu pun mendarat dan menari indah di telapak tangan Maya.

“Hai, Peri yang cantik. Siapa namamu?” tanya Maya.

“Hai, Maya. Perkenalkan, namaku Peri Listrik.”

“Peri Listrik?” Maya heran. “Maukah kau menjadi temanku?” pinta Maya.

“Tentu,” jawab Peri. “Aku peri yang berasal dari Negeri Listrik,” lanjut Peri.

“Sungguh? Aku sangat mengagumi listrik. Dengan adanya listrik, aku bisa menonton televisi seharian, menikmati cahaya-cahaya lampu yang indah. Ibu terbantu dengan alat-alat elektronik untuk memasak. Membersihkan lantai pun jadi mudah menggunakan alat penghisap debu. Sungguh, listrik sangat menakjubkan. Aku penasaran, bagaimana listrik dapat melakukan hal itu? Dapatkah kau membantuku?” kata Maya.

“Tentu aku bisa. Akan tetapi, akan sangat berbahaya bagimu,” jawab Peri.

“Kenapa?”

“Aku akan membawamu ke Negeri Listrik. Aku yakin, raja tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bila raja sampai tahu, ia kan menagkap dan membunuh kamu.”

“Tidak apa-apa, Peri. Aku siap menanggung akibat dari tindakanku,” kata Maya.

“Baiklah. Pejamkan matamu,” ucap Peri. “Sekarang, bukalah matamu,” lanjut Peri beberapa saat kemudian.

Tak khayal, maya sangat terkejut. Ia tidak lagi berada di dalam kamarnya. Sekeliling Maya dipenuhi oleh warna putih yang cerah.

“Peri, ada di mana kita?” tanya Maya keheranan.

“Inilah Negeri Listrik, Maya.”

“Indah! Sungguh indah sekali,” ucap Maya sembari menari-nari kegirangan. “Kita berada di bagian mana dari negerimu?”

“Kita ada di atas awan Negeri Listrik.”

“Hah! Di atas awan???” seru Maya setengah teriak tak percaya.

“Hssssstttt! Jangan keras-keras, Maya. Bila ada penjaga yang mendengar kata-katamu akan sangat membahayakan kita.”

“Lihatlah!” sambung Peri. Ia membelah awan di depan Maya dengan ayunan tongkatnya. Tampak oleh Maya keindahan kota di Negeri Listrik. Bersih, teratur, dan rapi.

“Apakah kita tidak akan terjatuh?” tanya Maya takut.

“Tenang, Maya. Selama kamu mengikuti kata-kataku, kita dapat melihat-lihat Negeri Listrik dengan aman. Sekarang, ikuti aku!”

“Ke mana kita akan pergi?”

“Aku akan membawamu ke tempat pembuatan listrik,” jelas Peri.

“Sungguh?”

“Ya, tapi kamu harus lebih menjaga sikapmua. Di tempat itu, penjagaan yang dilakukan sangat ketat.”

“Baiklah. Aku tidak akan bersuara keras-keras.”

Maya dan Peri Listrik melangkah menuju tempat pembuatan listrik. Tak lama kemudian, mereka berhenti.

“Di mana tempat pembuatan listrik yang kau ceritakan tadi?”

Sekali lagi, dengan kekuatan tongkat di tangannya, Peri Listrik membelah awan di dekat Maya. Di bawah, terlihat bagian lain Negeri Listrik.

2 thoughts on “Maya dan Peri Listrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s