Maya dan Peri Listrik part II


“Di sana, tempat pembuatan listrik berada.”

“Peri, siapa orang itu?”

“Oh, dia adalah Bumi.”

“Bumi?”

“Ya, benar. Bumi tempat engkau hidup dan asyik-asyikan menonton televisi.”

“Lalu, apa yang sedang dilakukannya di tempat ini?”

“Bumi sedang mengambil bijih listrik. Benda seperi air itu disebut bijih listrik. Bijih-bijih itu tersebar luas di Negeri Listrik, seperti samudera di negerimu. Kau lihat tandon-tandon raksasa di sebalah sana. Di sanalah bijih-bijih listrik diletakkan dan diolah. Lalu, listrik akan mengalir ke negerimu.”

“Ooo… Tampaknya, Bumi sangat kelelahan. Langkahnya terasa berat dan payah. Sangat beratkah pekerjaan ini baginya?” tanya Maya.

“Ya, pasti. Sebab, Bumi telah melakukan perkerjaan ini sejak ratusan tahun yang lalu. Dan ia belum pernah istirahat seditik pun.”

“Tanpa istirahat??? Oh, tidak. Kasihan sang Bumi,” lirih Maya.

“Apalagi saat ini, manusia menggunakan listrik dalam jumlah yang lebih besar dari pada sebelumnya. Bumi harus mengangkut lebih banyak bijih listrik ke dalam tandon. Berniat untuk istirahat saja sudah cukup bagi Bumi untuk mendapat hukuman dai para penjaga.”

“Penjaga? Penjaga yang mana? Aku tak melihat ada penjaga berkeliaran. Bumi hanya seorang diri di sini.”

“Lalu, di mana penduduk Negeri Listrik?? Tidakkah mereka membantu pekerjaan Bumi?? Tidak adakah rasa belas kasihan dalam diri mereka??”

“Maya, lihatlah diriku. Lihatlah ukuran tubuhku,” kata Peri. “Sebesar akulah rata-rata penduduk Negeri Listrik. Apa daya kami untuk membantu pekerjaan yang berat itu.”

“Tapi, tidakkah kau lihat keadaan Bumi sekarang. Ia sangat kelelahan. Ia sudah kehabisan tenaga.”

“Aku pun iba melihat Bumi. Apalagi saat aku membayangkan ia mati karena pekerjaan berat ini. Ah, kasihan dia.”

DUAAARRRRRR!!! Terdengar suara keas dibarengi cahaya yang sangat menyilaukan.

“Aaaaaaaaa!!!” teriak Maya ketakutan.

“Gawat! Kita harus segera pergi dari sini!” seru Peri Listrik menarik Maya.

“Apa yang telah terjadi?”

“Teriakanmu membuat keberadan kita diketahui oelh penjaga. Tempat ini sudah tidak aman lagi bagi kita.”

“Apa yang terjadi dengan suara dan cahaya tadi?” tanya Maya sambil berlari kencang menginggalkan tempat mereka.

“Itu petir tegangan tinggi. Para penjaga menyambarkannya ke tubuh Bumi. Mungkin, Bumi mencuri-curi kesempatan untuk istirahat.”

“Apa???!!! Aku harus kembali ke tempat itu. Aku akan menolong Bumi. Kondisinya pasti sangat parah akibat sambaran petir tadi.”

Maya hendak memutar arah, kembali ke tempat pembuatan listrik.

“Jangan, Maya!” cegah Peri. “Tindakanmu hanya akan berakhir sia-sia. Kamu akan hancur lebur oleh sambaran petir milik penjaga. Kita tidak akan menang melawan meraka,” jelas Peri.

“Tapi, aku harus menolong Bumi. Aku tidak bisa berdiam diri melihat Bumi mati disiksa.”

“Maya! Kamu bisa menolong Bumi, tapi bukan dengan jalan ini.”

“Apa yang bisa aku lakukan?”

“Kembalilah ke negerimu. Di sana, kamu bisa menolong bumi dengan memakai teknologi secara tepat dan efefektif. Nyalakan televisi secukupnya saja. Matikan lampu bila sudah tidak digunakan. Semakin manusia bijak menggunakan teknologi akan semakin rendah listrik yang diperlukan, maka semakin ringan pula beban yang ditanggung Bumi. Itulah satu-satunya jalan untuk menolong Bumi,” jelas Peri. “Sekarang, meluncurlah di atas pelangi itu. Nanti, kamu akan tiba di negerimu lagi. Cepat! Suara guntur dan petir telah dekat. Bila mendung datang, pelangi itu akan hilang. Kamu tidak akan dapat kembali ke negerimu,” lanjut Peri.

“Bukankah kamu akan ikut denganku?” tanya Maya.

“Tidak, Maya. Jika aku terlalu lama berada di negerimu, energi dalam tubuhku akan habis. Kita akan tetap menjadi teman. Teman yang sama-sama menjaga Bumi. Aku akan menjaga Bumi dari sini, di Negeri Listrik, sedangkan kamu menjaga Bumi di negerimu.”

“Aku sangat senang berteman denganmu. Terima kasih untuk pengalaman berharga ini.”

“Cepatlah! Waktumu sudah hampir habis!” seru Peri Listrik.

Seperti naik perosotan, Maya meluncur di atas pelangi. Maya jatuh tepat di atas tempat tidurnya. Tanpa pikir panjang, ia buang lampu-lampu di kamarnya. Ia hanya menyisakan satu lampu, lampu dengan hiasan Peri Listrik.

Kini, ia tidak lagi berlama-lama dalam menonton televisi. Setiap pagi, alih-alih berolah raga, Maya membersihkan lantai rumah dengan sapu, tak lagi memakai alat penghisap debu. Maya lebih sering menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain bersama teman-temannya. Maya pun mengajak teman-temannya melakukan hal yang sama, menolong Bumi dengan pemakaian teknologi secara tepat dan tidak sembarangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s