Chapter 1: The Meeting – part 2


Symphony of Dream

‘dasar anak – anak sombong, datang dan pergi semau mereka. Huh’ kataku memandang kea rah Pouya.

‘hai, Heizel, kok kau tidak pernah cerita kepada kami tentang siapa orang tua mu. Ternyata orang tuamu seterkenal dan sehebat itu. Wah beruntung sekali punya orang tua seperti orang tua mu’ kata ku lagi kepada Heizel.

Tapi sepertinya Heizel hanya diam sejak Crad memulai percakapan tentang orang tuanya. Tiba – tiba Heizel bangkit dan pergi begitu saja tanpa ada kata – kata pamit. Aku hanya terdiam melihat tingkah Heizel yang menjadi aneh.

Ku coba mengejar Heizel, tetapi Pouya menahanku dan menggelengkan kepala kearah ku seolah – olah berkata untuk membiarkan Heizel seperti itu.

Kami pun pulang tanpa Heizel, karena sepertinya Heizel pulang lebih dahulu dari pada kami.

‘kenapa Heizel bersikap aneh seperti itu sejak kita membicarakan orang tuanya’ tanya ku kepada Pouya

‘Jika kau tanya aku, aku cuma bisa bilang kalau aku tidak tahu kenapa.
Mungkin dia punya rahasia dan tidak ingin orang lain mengetahuinya’ kata Pouya sambil tetap menatap lurus kearah jalan.

‘tapikan kita temannya, harusnya tidak boleh ada rahasia diantara kita’ kataku.

‘mungkin dia punya alasan untuk tidak mengatakannya pada kita’ kata Pouya.
‘tapi kan….’ Kataku berusaha membenarkan perkataanku sebelumnya.

‘lebih baik kita tidak mencampuri urusan pribadi orang, nanti yang ada orang itu memusuhi kita’ kata Pouya berhenti dan menepuk pundak ku. Kemudian Pouya pulang kearah rumahnya, rupanya kami sudah mencapai jalan pertigaan yang membedakan arah pulang kami. Aku pun pulang sambil memikirkan kata – kata Pouya. “mungkin benar apa yang Pouya bilang, lebih baik biarkan Heizel seperti itu, mungkin pada waktunya Heizel akan bercerita’ kataku dalam hati.

Ternyata benar apa yang Pouya bilang kemarin, Heizel datang menyapa kami seperti biasa ketika waktu berangkat ke akademi bersama – sama. Seolah – olah tidak ada pembicaraan kemarin, Heizel terlihat riang dengan senyuman yang biasa terlihat di wajahnya.

‘maaf ya kemarin dengan tiba – tiba pergi meninggalkan kalian tanpa berkata apa – apa. Aku harap kalian tidak marah dan sakit hati atas sikapku kemarin’ kata Heizel yang tiba – tiba mendahului kami dan berbalik dan menundukkan badannya sebagai tanda meminta maaf.

‘tentu saja kami tidak marah kok, kata siapa kami marah’ jawabku yang menjadi salah tingkah karena sempat berfikir buruk.

‘tenang saja, lagi pula kau teman kami kok. Jangan kau pikirkan’ kata Pouya sambil mengajak kami untuk terus melanjutkan perjalanan.

‘terima kasih’ kata Heizel yang menjadi riang karena senang mendengar jawaban kami.

Langkah kami tiba – tiba terhenti karena terdapat kerumunan didepan gerbang akademi, hal itu tentu saja menarik perhatian kami. Dengan cepat kami mencoba menembus kerumunan tersebut untuk melihat apa yang terjadi.

Dihalaman akademi, berdiri seorang human laki – laki yang membawa pedang besar. Diseberangnya berdiri guru kami dari kelas fighter, Knoff, seorang Rune – knight fighter.

‘apakah hanya ini akademi yang dibanggakan di kota ini??’ laki – laki itu sambil membuat senyum yang menjijikkan di wajahnya.

‘untuk apa kau datang kemari??’ tanya Knoff dengan gaya tenangnya.

‘wah, ternyata aku kecewa. Hanya cuma ada satu orang yang berani keluar, apa hanya kau saja yang mengajar disini??’ ejek laki – laki tersebut dengan nada mengejek.

‘terserah kau berkata apa, jika tidak ada urusan disini, lebih baik kau segera meninggalkan tempat ini’ kata Knoff tanpa merasa terpancing dengan ejekan orang tersebut.

‘huh, enak saja kau menyuruhku pergi. Aku kesini untuk mencari lawan tanding, karena cuma ada kau maka kau yang akan menjadi latih tanding ku!!’ teriak laki – laki itu sambil melayangkan pedang besarnya kearah guru Knoff diakhir kalimatnya.

‘Sonic Boom!!’ teriak laki – laki itu kearah guru Knoff.

Guru Knoff pun menghindar serangan tersebut dan membalas dengan mengeluarkan jurus Rune Impact untuk mengakhiri secara cepat pertarungan tersebut. Tetapi orang itu ternyata lebih kuat dari yang dibayangkan, dengan telak dia menerima serangan tersebut tetapi masih bisa berdiri.

Akibat dari serangan tersebut, laki – laki tersebut seperti menjadi gila, dengan buasnya laki – laki itu menyerang guru Knoff. Knoff pun menerima serangan langsung secara bertubi – tubi kearahnya dan terlihat kalau mereka mempunyai kemampuan yang seimbang.

Bagi kami yang menyaksikan pertarungan tersebut, merasa takjub karena melihat secara langsung pertarungan antara kesatria. Tanpa kami sadari bertiga, terdengar suara dibelakang kami.

Ternyata itu berasal dari pelatih kelas rouge dankelas fighter, Assassin Sovac dan Phalanx Albert.

‘bagaimana menurutmu Sovac, apakah Knoff akan kalah dari orang itu??’ tanya Albert kepada Sovac yang berada disebelahnya.

‘tidak, sepertinya mereka mempunyai kemampuan yang sama’ jawab Sovac tanpa melepaskan pandangan kearah pertarungan.

‘tapi sepertinya dari nada bicaramu, kau ingin bergabung dengan permainan mereka, bukan begitu’ ejek Albert.

‘hahahaa, ternyata kau membaca pikiranku ya’ kata Sovac dengan senyum licik.

‘wah, ada apa rame – rame begini?? Ada sesuatu yang penting ya??’ kata suara ketiga di belakang Sovac dan Albert yang rupanya dimiliki oleh Yakun, seorang guru latih kelas mage, Elemental Master.

‘ada orang yang menantang Knoff di akademi’ jawab Albert yang terlihat gembira melihat Yakun.

‘dari mana saja kau, kenapa baru datang’ kata Albert lagi.

‘hahahha, aku ketiduran tadi dirumah jadi datangnya telat’ kata Yakun sambil tertawa.

‘memang kebiasaan kau untuk datang terlambat terus’ kata Sovac.

‘jangan begitu donk, kau terdengar sinis dengan perkataan mu barusan’ kata Yakun sambil tetap tertawa.

Entah bagaimana dengan mereka yang terlihat malah sibuk bertiga terlihat tidak mempedulikan pertarungan teman mereka yang ada didepan mata. Sementara kami, murid – murid akademi cuma bisa menahan nafas melihat pertarungan sengit tersebut.

Tiba – tiba dari arah gedung akademi terdengar suara.

‘Thundering Death!!’ teriak suara tersebut. Knoff dan orang yang sedang bertarung dengannya segera menghindar walau serangan tersebut tidak ditujukan kepada Knoff, tetapi ia ikut menghindari serangan tersebut.
‘Hei, siapa itu yang berani mengganggu pertarungan kami’ kata orang yang bertarung dengan Knoff.

‘maaf jika aku mengganggu pertarungan kalian, tapi aku tidak suka ada yang mengganggu akademiku hanya untuk pertarungan anak – anak seperti ini’ kata suara itu mendekati kedua laki – laki yang sedang bertarung tersebut.

‘anak – anak?? Ini adalah pertarungan kesatria, masa kau samakan dengan pertarungan anak – anak’ kata orang itu dengan nada marah. ‘lagipula siapa kau yang mengganggu kami’ tanya orang itu kea rah sosok yang baru saja keluar dari gedung sambil membawa gada, itu adalah senjatanya, Athena.

‘aku adalah pemimpin dari akademi ini’ kata sosok tersebut. ‘namaku Huam. Disini kau menantang kami, padahal disini banyak para petarung kecil yang sedang belajar. Dan pertarungan yang kau lakukan disini hanya demi kesenangan semata, apakah itu bukan pertarungan anak – anak??’ kata Huam.
‘lihat sekelilingmu, kau dapat membahayakan mereka’ kata Huam lagi.

Orang itu pun melihat sekelilingnya, seperti mendapat angin segar dia tersenyum dan tiba – tiba tertawa.

‘hahahhaa… aku kira ada benarnya juga kau hei orang tua. Baik mungkin pertarungan hari ini sudah cukup, lain kali kita lanjutkan’ kata orang tersebut kearah Knoff.

Orang tersebut pun pergi meninggalkan akademi. Kami yang sedang berdiri didepan pintu gerbang akademi segera menyingkir memberikan jalan untuk orang tersebut. Ku lihat diwajah orang itu terdapat bekas luka melintang dari atas mata ke bawah pipinya, sepertinya bekas luka dari pertarungan yang tidak biasa, mungkin akibat pertarungan dengan monster kataku dalam hati.
Seperti merasa diperhatikan, orang tersebut tiba – tiba melirik kearahku dan tersenyum licik. Aku yang menyadarinya segera memalingkan muka agar tidak ketahuan bahwa aku tidak suka mendapat ekspresi seperti itu. Aku merasakan aura aneh dari orang itu, aura yang membuat perasaanku tidak nyaman.

Akibat insiden pagi itu, kami semua yang di akademi terlambat untuk memulai pelajaran. Dengan segera para guru dari kelas masing – masing menyuruh kami untuk masuk kelas. Dan kami pun masuk kelas sambil membicarakan terus kejadian tadi. Aku yang menyaksikan pertarungan tersebut menjadi berdebar – debar untuk segera menjadi kesatria yang kuat, dan begitu kuat hal yang pertama kulakukan adalah mengalahkan Pouya.

http://forum.lytogame.com

3 thoughts on “Chapter 1: The Meeting – part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s