Chapter 1: The Meeting – part 1


Symphony of Dream

Namaku Riff, aku merupakan murid dari Akademi Houlbond kelas Fighter tingkat 2 yang mempunyai keinginan untuk mengalahkan sahabat baikku Puoya, seorang elf dari kelas yang sama, aku sendiri berasal dari ras human. Tetapi keingingan itu sepertinya susah karena Pouya sangat kuat, walau dari bangsa elf tetapi dia seperti dari bangsa human. Setiap kali latihan tarung dengan dia aku selalu kalah. Karena itu aku bertekad dengan sungguh – sungguh untuk mengalahkannya.

Aku menunggu Pouya seperti biasa di tempat kami bertemu dipertigaan jalan setiap berangkat menuju akademi. Tapi entah kenapa sepertinya Pouya hari ini terlambat datang, dengan sabar aku memandang jalan dimana mengarah menuju ke rumahnya. Tiba – tiba aku mendengar suara seseorang disuatu tempat, dengan penasaran aku menghampiri suara itu dan menemukan seorang gadis elf yang diserang oleh seekor monster Red Turtle.

“Tolong!!” teriak gadis itu. Dengan segera ku raih pedang yang ada di pinggang dan ku tebas kearah monster itu. Tapi ternyata tidak mudah di banding waktu latihan di akademi, monster itu terlalu kuat dan aku hampir tak sanggup untuk menghadapinya. Monster itu mendesakku hingga aku tersudut karena dibelakangku terdapat pohon. Tiba – tiba dengan sekali hentakan monster itu menjatuhkan ku dan membuat pedangku terlempar.

“Sepertinya inilah akhir dari hidupku” dalam pikiranku. Terlintas bayangan temanku Pouya di belakang monster itu, seperti mimpi aku terselamatkan. Dengan sekali ayun pedangnya, monster itu mati.

“sedang apa kau Riff?? Hampir saja kau di bunuh monster itu” kata Pouya. ‘Lain kali kalau tidak kuat menghadapi monster yang tidak bisa kau lawan, lari saja’ kata Pouya lagi.

‘huh, kau dari mana saja ?? aku menunggumu terlalu lama’ kataku. ‘sebenarnya aku kuat, tapi karena tadi aku terpeleset mangkanya aku kalah melawan monster itu’ kataku lagi.

‘seperti biasanya ya kau selalu menghindar… hahahha…’ kata Pouya sambil tertawa.

Sebal aku melihat ketawa Pouya mengejekku, dan tanpa kami sadari terdapat suara di belakang kami. Aku lupa kalau gadis itu masih ada disekitar kami.

‘terimakasih telah menolongku’ kata gadis itu. ‘bagaimana aku membalasnya’
‘tidak usah’ kataku. ‘sudah tugas kami untuk menolong orang.. heh’ kataku lagi sambil tersenyum.

‘siapa dia??’ tanya Pouya bingung.

‘oh, maaf, namaku Heizel’ kata Heizel sambil mengulurkan tangan.

‘perkenalkan namaku Riff dan ini Pouya’ kataku sambil menyambut tangan Heizel menyalip Pouya.

‘kalian murid – murid dari Akademi Houlbond??’ tanya tiba – tiba Heizel sambil melirik lambang yang terdapat di seragam yang kami kenakan.

‘iya, kami memang murid dari Akademi Houlbond’ kata Pouya.

‘oh, baguslah kalau begitu, kalau begitu aku bisa ikut kalian??’ kata Heizel terdengar riang.

‘baiklah kalau begitu, ayo kita jalan’ sambutku merasa senang.

Akhirnya kami pun berjalan bertiga menuju Akademi. Rupanya Heizel merupakan murid baru di Akademi Houlbond, tahun ini merupakan tahun pertama dia masuk akademi. Dan dia menceritakan bawa dia pindah dari kota asalnya, Rodcliff, untuk belajar ilmu sihir di kota kami. Memang kota kami lebih terkenal akan Akademi kelas Sihirnya, tetapi bukan berarti kelas yang lain tidak terkenal, hanya saja yang minat masuk kelas sihir selalu banyak. Tanpa terasa kami pun sudah tiba di gerbang akademi. Kami pun berpisah karena sebentar lagi masuk kelas.

Dalam beberapa hari kami bertiga menjadi akrab, kami selalu pergi dan pulang bersama. Dan sepertinya hal tersebut menarik perhatian orang lain. Ketika kami sedang makan siang dibawah pohon tempat kami selalu berkumpul setiap siang dan pulang. Kami di datangi oleh Crad, seorang murid kelas rouge, dia berjalan menghampiri kami bersama Cecil yang selalu berada di belakangnya.

‘hai’ sapa Crad ‘bolehkah aku ikut makan bersama kalian??’ tanya Crad.

‘buat apa kalian kesini?? Tidak makan bersama fans – fans kalian??’ kataku dengan ketus.

‘bocah, kami tidak berbicara padamu tahu’ kata Cecil.

‘dasar wanita penyihir, mau ngajak ribut’ kataku sambil menantang gadis itu.

‘ayo, siapa takut menghadapi bocah sepertimu’ kata Cecil sambil tersenyum licik.

Aku tahu bahwa hampir tidak mungkin untuk mengalahkan Cecil, jika waktu itu tidak ada Pouya, mungkin aku sudah menanggung malu karena kalah dari gadis itu.

Tiba – tiba Pouya menahanku. ‘untuk apa kau mencari gara – gara dengan mereka Riff’ kata Pouya, ‘biarkan saja mereka ikut makan dengan kita’ katanya lagi.

‘tapi’ kataku. ‘silahkan jika kalian mau ikut’ kata Pouya kepada Crad dan Cecil.

‘terimakasih’ kata Crad duduk disebelah Pouya dan Heizel, dan Cecil duduk disebelahnya karena jika dia duduk sebelah ku. Maka perang tidak dapat di hindarkan.

‘Jadi kamu yang bernama Heizel’ kata Crad sambil melirik ke Heizel. ‘suatu kehormatan bisa bertemu anak dari Modort, penyihir ternama itu’ kata Crad lagi.

‘terimakasih, tapi dari mana kamu tahu aku anak Modort??’ tanya Heizel.

‘itu bukanlah hal yang sulit untukku mengetahuinya’ kata Crad sambil makan makan siangnya. Seperti biasa, makanannya selalu terlihat mewah karena dia berasal dari orang yang terbilang kaya di kota ini.

‘hei, jangan sombong mentang – mentang kau orang kaya’ sahutku. Tapi sepertinya Crad tidak mempedulikanku.

‘nama Cardinal Modort termahsyur di dunia Blue Land, tidak ada yang tidak pernah dengar nama penyihir terbaik yang pernah di miliki kerajaan Canvish’ kata Crad lagi.

‘Siapa sebenarnya Cardinal Modort?’ bisikku ke telinga Pouya.

‘ternyata ada orang juga yang tidak kenal nama Cardinal Modort’ kata Cecil.
‘Berisik kau nenek sihir’ sahut ku kesel dan malu.

‘Cardinal Modort, adalah penyihir yang terkenal di Blue Land karena salah satu orang yang menjadi penjaga Cracked Stone. Berkat dia, grupnya berhasil menyegel kembali Cracked Stone yang sempat retak dan berakibat monster – monster yang berada disekitar daerah tersebut berubah menjadi sangat ganas dan lebih kuat. Kejadian tersebut sempat membuat seluruh Blue Land hampir diambang kehancuran. Tapi berkat orang – orang yang berani di seluruh Blue Land dan kerajaan Canvish, retakan di Cracked Stone berhasil di tutup dan Blue Land kembali tenang. Walau telah banyak kesatria yang mati karena peristiwa itu, tapi kedamaian yang didambakan kembali lagi. Dan untuk itu, seluruh kerajaan di Blue Land termasuk Canvish membentuk aliansi penjaga tempat tersebut. Dan Cardinal Modort adalah salah satu yang menjaga Cracked Stone. Selain kuat, dia juga yang terpandai yang pernah di miliki kerajaan’ kata Pouya menjelaskan.

‘Cracked Stone?? Sebenarnya ada apa disana??’ tanya ku polos.

‘wah, ternyata kemampuan dan otak kau sama – sama kecilnya’ ejek Cecil. ‘Di Cracked Stone, konon terdapat iblis yang tinggal didalamnya. Makhluk yang semulanya berpihak pada kedamaian berubah menjadi iblis yang ingin menghancurkan seluruh makhluk yang tinggal didalam Blue Land. Ribuan kesatria berusaha untuk mengalahkan monster tersebut, tetapi hampir tidak ada harapan untuk menang melawan makhluk tersebut’ kata Cecil. ‘tetapi, dewa berpihak pada kita. Akhirnya berkat bantuan dari bangsa lain yang kemudian hilang karena mereka bersama – sama beberapa kesatria tertinggi berhasil menyegel makhluk tersebut ke dalam Cracked Stone. Tapi penyegelan tersebut membutuhkan kekuatan lain untuk menjaga monster itu didalamnya, dan bangsa yang tidak kita ketahui itu sampai sekarang konon menjaga Cracked Stone dari dalam. Entah itu cuma cerita atau mitos, tapi sejak kejadian retakan tersebut terdengar rumor bahwa bangsa tersebut telah musnah karena kekuatan iblis itu’ lanjut Cecil.

‘tapi sekarang kita tidak perlu khawatir. Karena para kesatra terbaik Blue Land telah menjaga agar tidak terjadi retakan di Cracked Stone. Berkat kesatria – kesatria seperti Cardinal Modort’ kata Card sambil mengelap makanan di mulutnya.

‘sepertinya urusanku disini telah selesai, aku harap pertemuan ini dapat menjadi awal hubungan yang baik denganmu’ kata Card lagi bediri sambil menatap Heizel.

‘hei kau anak sombong, sebenarnya apa tujuanmu yang tiba – tiba datang kesini ikut makan dan begitu selesai langsung pergi’ tanyaku merasa emosi.

‘Sudahlah Riff, buat apa kita mencari masalah dengan mereka. Biarkan mereka berbuat sesuka mereka yang penting mereka tidak merusak acara makan siang kita’ kata Pouya menenangkan.

‘apa maksudmu dengan merusak?? Apakah kami suka merusak kesenangan kalian??’ kata Cecil yang tiba – tiba bangun dan seperti menantang kami.
‘sudahlah Cecil, urusan kita disini telah selesai. Lebih baik kita pergi dari sini dan membiarkan mereka bersenang – senang dengan acara mereka’ kata Crad sambil berjalan menjauh.

‘kalian beruntung kali ini’ kata Cecil sambil berlari mengajar temannya itu.

http://forum.lytogame.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s