Scene 2 : Why ?


“Uughhh..” Aku terbangun dari tidurku dan merasakan kepalaku sangat sakit..
“Apa yang terjadi? Apakah kejadian mengerikan itu hanya mimpi?” Aku memperhatikan sekelilingku..
Aku berada di sebuah ruangan bercat putih.. Ada 2 jendela tertutup tirai dan sebuah pintu..
“Tempat apa ini?”
Aku mencoba bangkit dari tidur.. “Ugh..” Aku tidak bisa.. Seluruh tubuhku sakit..
Ada apa dengan tubuhku sebenarnya?
“Kreeekk..” Suara pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki memakai pakaian serba putih.. Laki-laki itu bertelinga panjang.. Elf?
“Kau sudah bangun?” Suara laki-laki itu bernada cemas..
Aku mencoba bangkit lagi tapi tubuhku tidak mau menurutiku.. Yang kurasakan semakin kupaksa tubuhku untuk bangkit.. Semakin sakit tubuhku..
Laki-laki itu mendekatiku..
“Jangan memaksakan diri.. Lukamu belum sembuh..” Laki-laki itu menampakkan wajah cemas saat melihatku terus mencoba untuk bangun..
Aku menurutinya karena aku memang tidak bisa bangun dengan keadaanku sekarang..
“Ini.. Dimana?” Aku berucap lirih..
“Ini di rumah sakit Pelabuhan Alker.. Namaku Dietrich, aku adalah priest yang merawatmu..” Laki-laki itu menyebutkan namanya
“Bagaimana aku bisa disini?”
“Saat aku akan mengantarkan obat untuk temanku di kota Luceria..” Wajahnya berubah sedih..
“Ketika sampai yang kulihat adalah kota itu sudah hancur tak bersisa.. Aku mencoba menolong orang yang masih hidup disana, tapi tak kutemukan orang yang hidup selain kau dan seorang lagi..” Dia menceritakannya dengan nada sedih..
Kota? Hancur? “Degg..” Aku teringat dengan semua kejadian di kota itu.. Orang berambut hitam dengan sorot mata yang dingin.. Aku ingat saat dia membakar ibuku yang sudah menjadi mayat, dia membakarnya tanpa perasaan, seolah olah dia sedang membakar seonggok daging tak berarti..
Mengingat semua kejadian itu membuat kepalaku semakin sakit..
Pandanganku menjadi gelap..

Aku terbangun karena cahaya memasuki ruangan itu dari jendela,, Rupanya seseorang telah membuka tirai yang menutupinya..
Aku mencoba untuk bangun.. Tubuhku sudah terasa lebih baik. Aku turun dari tempat tidur dan mencoba untuk berdiri.. Agak sulit karena kakiku terasa kram.. Setelah agak lama kakiku terasa biasa, aku mencoba berjalan keluar ruangan..
Setelah keluar dari ruangan, kulihat ada taman yang indah.. Banyak bunga dan sebuah kursi panjang dibawah pohon yang rindang.. Aku berjalan menuju kursi itu lalu duduk disana.. Kurasakan ketenangan dengan memandangi bunga bunga itu..
“Kebencian dan kemarahanmu kurang.. Karena itulah kau tidak bisa melukaiku..” Suara itu terngiang di kepalaku..
“Hentikan!” Aku terus mencoba untuk menghilangkan suara itu dari kepalaku..
“Karena kebencian dan kemarahanmu kurang, semua orang disini mati.. Termasuk ibumu!” Bayangan ibuku dibunuh oleh ‘orang itu’ terbayang jelas di kepalaku.. “Hentikan ! Hentikan !” Aku menutup telinga dan berteriak mencoba menghilangkan suara itu.. “Ini semua adalah salahmu!!” Suara itu semakin keras terdengar.. “Bukan! Ini bukan salahku! Bukaaannn!!!” Aku berteriak semakin keras..
“Sadarlah! Hey!” Suara seseorang menyadarkanku..
Aku berhenti berteriak dan memandang asal suara itu.. Seorang Elf berambut hijau panjang.. Dietrich?
“Ada apa denganmu?” Dia duduk di sebelahku setelah melihatku sudah tenang..
“Aku.. Aku terbayang kejadian itu..” Tanpa sadar air mataku sudah mengalir..
“Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku?” Aku terus saja menangis..
“Apakah ini semua salahku? Salahku karena aku lemah? Karena aku tidak mampu melindungi semuanya?” Aku terus menyalahkan diriku..
“Sudahlah, jangan terus menyalahkan dirimu..” Dia mengangkat wajahku lalu menyeka air mataku dengan sapu tangan.. Sapu tangan itu berbau harum seperti bunga..
Perlahan-lahan tangisku mereda.. Kutatap bola matanya yang berwarna biru.. Kurasakan ketenangan saat aku menatap matanya.. Mata yang sungguh teduh..

Sejak keluar dari rumah sakit, aku tinggal di rumah Dietrich. Dia berbaik hati mau menampungku karena aku tidak memiliki saudara..
“Hey, Aku punya kabar baik untukmu?” Dia mengatakan itu waktu sarapan pagi ini..
Sudah 1 minggu aku tinggal dirumahnya.. Untuk membalas budi baiknya akulah yang memasak makanan untuknya..
Aku menatapnya.. Dia seolah mengerti tatapanku lalu melanjutkan kata- katanya..
“Aku sudah mendaftarkanmu di Akademi Alker.. Dan kau bisa mulai masuk besok..” Dari cara bicaranya, dia terlihat gembira..
“Terima kasih..” Hanya kata-kata itu yang kuucapkan padanya..
Akademi.. Aku tidak yakin kalau aku bisa membaur di tempat itu..

http://forum.lytogame.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s