Scene 10 : Eternal Darkness


Aku memandang langit-langit kamarku dengan tatapan menerawang.. Semua hal yang baru saja terjadi padaku membuatku tidak bisa tenang.. Ingatanku, kekuatanku, dan juga statusku sebagai ‘anak’ dari Tarintus.. Hal itu membuat pikiranku tidak bisa tenang..
“Mungkin aku akan pergi menenangkan diri sebentar..”
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu..
“Duk! Duk! Duk!” Baru saja aku akan membuka pintu, ada seseorang yang mengetuknya.. Aku membukanya dan kulihat seorang gadis manis berambut coklat..
“Ada apa Myria?”
“Maaf menggangu anda Nona, Tuan Asfard menyuruh saya untuk memanggil anda..”
“Memanggilku? Ada apa?”
“Saya tidak tahu Nona..” Dia menjawab sambil menggeleng..
Aku melihat keluar, di lorong itu tidak ada orang lagi.. Kutarik Myria masuk kedalam kamarku.. Lalu kututup pintu kamarku..
“Waaa..” Dia tampak kaget..
“Aa.. apa yang Nona lakukan?”
Aku menarik nafas lalu duduk di tempat tidur.. Myria hanya melihatku dengan tatapan bingung..
“Myria..”
“I..iyaa?” Dia menjawab dengan suara takut..
“Jangan ketakutan seperti itu.. Aku tidak akan melakukan apapun padamu..”
“Nona.. Tidak marah?”
Aku menggeleng.. Dia tampak lega..
“Saya kira Nona marah karena saya telah mengganggu Nona..” Mukanya terlihat lucu saat mengatakan itu..
Aku hanya tertawa kecil..
“Kenapa Nona tertawa?”
“Tidak, hanya saja aku heran kenapa kau sangat takut kalau aku marah..” Aku menatapnya..
Dia salah tingkah karena kutatap seperti itu..
“Ti.. Tidak, saya hanya..” Dia seperti bingung melanjutkan kata-katanya..
“Ssssttt..” Aku menutup mulutku dengan jari telunjukku sebagai isyarat agar dia diam..
“Myria, aku ingin keluar dari sini..” Aku mengatakan itu sambil menghela napas..
Dia tampak terkejut dengan apa yang telah kukatakan..
“Kenapa?? Apa ada sesuatu di tempat ini yang membuat Nona tidak nyaman?? Apa saya telah berbuat suatu kesalahan sehingga No..”
“Bukan!” Aku memotong kata-katanya..
“Bukan seperti itu Myria.. Hanya saja aku masih belum bisa menerima tentang apa yang terjadi padaku.. Aku ingin pergi keluar sebentar untuk menenangkan diri..” Semua yang daritadi ada dalam pikiranku kukatakan para Myria..
Myria terlihat tidak mengerti apa yang kukatan, dia hanya berdiri mematung sambil menunduk..
Aku berdiri lalu berjalan menuju cermin.. Kulihat disana bayanganku terpantul.. Tunggu.. ada sesuatu yang berbeda dari diriku.. Mataku berubah warna menjadi hitam kemerahan..
Aku lalu menoleh ke Myria..
“Myria, kenapa warna mataku bisa berubah?” Aku bertanya padanya dengan penuh keheranan..
“Iituuu… ituu memang warna mata anda yang sebenarnya..” Dia menjawab sambil tetap menunduk..
“Apa maksudmu?”
Dia lalu mengangkat wajahnya dan melihatku..
“Warna mata anda memang seperti itu.. Waktu anda pertama kali dibawa Tuan Asfard kemari saya tidak ingat kepada anda karena warna mata anda berbeda..”
Aku lalu melihat ke cermin lagi..
“Entah seperti apa diriku.. Aku tidak ingat lagi..”
“Nona, jika anda ingin pergi.. Terimalah ini..” Myria lalu menyerahkan suatu gulungan kertas padaku..
“Teleportation scroll?”
“Gantilah baju anda dan berjanjilah anda akan kembali..” Myria melihatku dengan tatapan penuh kekhawatiran..
Aku tersenyum kepadanya..
“Tenang saja.. aku pasti segera kembali..”
Setelah berganti pakaian, Myria memberiku beberapa keping gold..
“Nona, jangan pergi terlalu lama..”
Aku tersenyum kepadanya lalu membuka gulungan itu dan merasa sesuatu membawaku terbang..

Aku berpindah ke gerbang sebuah kota.. Gerbang yang megah dan ada beberapa penjaga yang menjaga..
“Humm, ini dimana ya?”
Aku lalu membaca teleportation scroll yang baru kugunakan.. Disitu tertulis “Nuecleus”..
“Kota Nuecleus?”
Aku lalu masuk kedalam kota.. Kulihat kota ini sangat ramai dan banyak orang berlalu-lalang..
Baru saja aku berjalan beberapa langkah tiba-tiba..
“Buukkk” Ada yang menabrakku dari belakang.
Kulihat seorang anak kecil berambut merah membawa sebuah roti di tangannya terjatuh.. Dia lalu buru-buru bangun dan bersiap untuk lari..
Aku langsung mencengkram tangannya untuk mencegahnya lari.. Anak itu terlihat ketakutan..
“Kenapa kau tidak minta maa..” Belum selesai aku mengatakan sesuatu, ada seorang bapak-bapak gendut berlari sambil berteriak..
“Pencurii!!” Dia lalu berlari menuju ke arahku.. Anak kecil itu terlihat semakin ketakutan ketika bapak-bapak itu semakin dekat..
“Akhirnya kau tertangkap pencuri!!” Dia lalu mencengkram tangan anak kecil itu dengan keras..
“Aduuhhh..!!” Anak kecil itu kesakitan..
Aku kasihan melihatnya..
Kulihat bapak-bapak itu akan memukul anak itu..
“Tunggu!!” Bapak itu melihatku..
“Apa yang dilakukan oleh anak ini pak?”
“Anak ini telah mencuri roti dari tokoku!!” Suara bapak itu terlihat marah..
Kulihat anak kecil itu sangat ketakutan.. Aku makin kasihan melihatnya..
“Biar saya yang membayar apa yang dia curi pak..”
Aku lalu memberikan bapak itu beberapa gold dan dia melepaskan anak itu..
Anak itu terduduk dan menangis sesenggukan.. Aku lalu menghampirinya..
“Sudah, tidak apa apa.. Jangan menangis..” Aku mengusap air matanya..
Aku lalu menuntunnya untuk berdiri..
“Namaku Lucia.. Siapa namamu?” Aku bertanya padanya..
“Erio.. Erio Lusche” Dia lalu memandangku.. Lalu tersenyum polos..
“Terima kasih kak!”
“Kenapa tadi kau mencuri Erio?” aku lalu bertanya padanya..
“Aku lapar dan aku tidak punya uang..” Raut wajahnya berubah sedih..
Aku tidak tega melihatnya.. Lalu kugandeng tangannya..
“Ayo, kakak akan membelikanmu makanan..”
Dia terlihat sangat senang..
Aku menggandengnya menuju sebuah restoran..
Didalam restoran dia terlihat canggung..
“Pesanlah sesuatu.. Tadi kau bilang kau lapar..”
Dia hanya diam saja..
Aku lalu memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan dan minuman..
Aku lalu bertanya padanya dimana kedua orang tuanya..
Dia hanya menunduk sedih dan bercerita bahwa orang tuanya meninggal sewaktu dia masih kecil.. Selama ini dia hidup dari mencuri makanan dan terkadang uang dari orang lain..
Saat dia menyelesaikan ceritanya makanan dan minuman yang kupesan datang.. Matanya terlihat berbinar-binar melihat makanan itu..
“Makanlah..”
Dia lalu makan dengan lahap dan aku hanya melihatnya.. Melihatnya makan dengan lahap membuat suatu perasaan bahagia dalam hatiku..
Setelah selesai makan aku lalu membayar makanan itu..
“Erio.. Kakak tidak tahu kota ini, maukah kau menemani kakak berkeliling kota?”
Dia menatapku lalu mengangguk..

Seharian ini aku dan Erio berkeliling kota bersama.. Dia terlihat sangat senang dan bahagia.. Ada suatu kesenangan juga melihatnya sebahagia itu..
Tanpa terasa hari sudah malam..
Aku dan Erio beristirahat di taman..
“Kak, terimakasih ya.. Hari ini aku sangat senang..” Dia mengatakan hal itu dengan ekspresi ceria..
“Harusnya kakak yang berterima kasih.. Kau sudah mengantar kakak berkeliling kota..” Aku mengusap-usap rambut merahnya..
“Kak, tunggu disini sebentar ya.. Aku akan memberikan sesuatu kepada kakak..” Dia lalu berlari ke suatu jalan dan berbelok..
Dia anak yang sangat baik.. Hanya saja takdirnya begitu kejam.. Apa aku bisa membawanya ke tempatku? Mungkin dia akan lebih bahagia disana..
Kutunggu beberapa lama dia tidak kembali juga.. Kuputuskan untuk mencarinya..
Aku berkeliling ke sekitar taman dan kulihat ada beberapa orang mengerumuni sesuatu.. Aku penasaran dan mendekatinya..
Saat aku dekat aku tidak percaya dengan apa yang kulihat..
“ERIOOOOOO!!!” Aku lalu menghampiri tubuhnya yang bersimbah darah..
“Kaaa…Kak… Inii..” Dia berusaha menyerahkan setangkai bunga yang ada di tangannya..
Aku memeluk tubuhnya lalu menangis..
“Erioo!! Bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit!!..” Kurasakan tidak ada reaksi pada tubuhnya..
Kulihat matanya sudah kosong.. Tubuhnya tidak bernyawa lagi..
Kudengar bisikan orang-orang yang ada dibelakangku mengatakan bahwa sudah sepantasnya pencuri seperti dia mati..
Sambil memeluk tubuh Erio aku merapalkan sebuah spell..
“Wahai pisau darah yang membawa kematian, cabutlah nyawa mereka yang tidak ada artinya di dunia ini.. Bloody Dagger!!”
Pisau-pisau merah keluar disekitar orang orang itu..
“Guaaaaaarrrrrgggghhhhhhh…” Pisau-pisau itu lalu menusuk mereka hingga mati..
“Cukup, kota ini tidak tahu arti dari sebuah nyawa.. Kota ini lebih baik tidak ada..”
Aku lalu terbang dengan energi sihirku..
“Aku memanggilmu wahai kegelapan yang menghancurkan segalanya. Kegelapan, berkumpullah dan hancurkan dunia ini sampai tidak bersisa..
Forbidden Darkness Spell: ETERNAL DARKNESS!!!”
DUAR! DUAR! DUAR!!
Kota ini Hancur oleh 1 spell dariku..
Airmataku tidak berhenti mengalir..
“Dunia ini, sudah tidak ada artinya lagi..”

Http://forum.lytogame.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s