Part 8 : Memory


Setelah kubuka pintu yang ada di depanku.. Sekarang terlihat sebuah ruangan yang besar dengan tanga menuju kebawah.. Di dinding ruangan ini ada beberapa lukisan seseorang.. Kupandangi salah satu lukisan itu.. Orang di lukisan itu sudah tua, janggut dan rambutnya berwarna putih..
Entah kenapa, ketika kulihat lukisan itu ada sebuah kerinduan yang muncul.. Sebuah perasaan yang aneh.. Perasaanku mengatakan aku mengenal orang yang ada di dalam lukisan itu, tapi aku tidak ingat pernah mengenalnya..
“Apa yang anda lakukan disini?” Sebuah suara menegurku dari belakang..
Aku menoleh kebelakang. kulihat Asfard ada disana..
“Aku merasa aku mengenal orang yang ada di lukisan ini..” Aku berkata seperti itu dengan tetap melihat lukisan itu..
“Ya, anda memang mengenalnya..” Kali ini aku melihat Asfard, kulihat dia tidak berbohong..
“Mengenalnya? Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu siapa dia..” Aku mulai bingung dengan apa yang terjadi pada diriku..
Asfard tidak menjawab pertanyaanku, dia berjalan ke arah tangga yang menuju ke bawah.. Saat akan menuruni tangga dia menoleh padaku..
“Jika anda ingin mengetahuinya, ikuti saya..” Lalu dia menuruni tangga itu..
Kuikuti dia.. Tangga ini menuju kebawah.. Kulihat kebawah, disana ada beberapa orang yang duduk mengitari sebuah meja besar.. Saat melihat aku dan Asfard mereka berdiri..
“Maaf karena membuat kalian menunggu lama..” Asfard menyapa mereka, sepertinya dia mengenal orang-orang itu..
“Kau sudah membuat kami menunggu terlalu lama..” Salah seorang dari mereka menjawab dengan nada kesal..
Salah 1 dari 6 orang yang ada disana melihatku..
Dia segera berjalan kedepanku..
“Apakah anda sehat Nona Lucia?” Suaranya terdengar sangat hormat padaku..
5 orang yang lain terkejut saat mendengar ucapan orang ini..
Mereka segera bangkit lalu berlutut padaku..
“Maafkan kami..” Mereka ber 5 meminta maaf dengan bersamaan..
“Ah, ya..” Aku hanya menatap mereka semakin bingung..
Mereka lalu berdiri dan memandangku..
Aku hanya mematung saja..
“Nona, apakah anda tidak ingat dengan kami?” Orang yang pertama berdiri tadi lalu melihatku..
Aku menggeleng “Aku tidak tahu siapa kalian..”
5 orang yang tadi berlutut padaku saling berpandangan..
“Asfard apa yang terjadi pada Nona Lucia?” Salah seorang dari mereka bertanya pada Asfard yang berdiri di belakangku..
“Sepertinya ada ‘sesuatu’ yang membuat Nona Lucia kehilangan ingatannya..”
“Sesuatu? Apa maksudmu?” Mereka melihat Asfard dengan tatapan yang aneh..
Salah satu dari 5 orang itu lalu mendekatiku..
“Maafkan kelancangan saya..” Dia lalu membaca sebuah spell..
Tidak terjadi apa apa..
Dia lalu mengarahkan tangannya padaku..
“Eh..?” Kulihat tangannya masuk ke tubuhku..
Tangannya bergerak gerak seperti mencari sesuatu di dalam tubuhku..
Dia lalu menarik sesuatu dari dalam tubuhku.. Kulihat sebuah crystal berwarna merah ada di tangannya..
“Segel yang merepotkan..” Dia lalu membaca sebuah spell.. Praangg! crystal itu pecah berkeping-keping..
“Aaarrgghh..” Aku merasa kepalaku terasa sangat sakit.. Aku lalu terduduk sambil *****angi kepalaku.. Keadaan disekitarku tiba-tiba berubah, aku lalu berpindah ke suatu tempat..

“Ayah, apakah aku akan menjadi sehebat Ayah?” Kudengar sebuah suara.. Lalu kulihat asal suara itu..
Kulihat disana diriku yang masih kecil berbicara dengan seseorang.. Orang itu lalu tersenyum..
“Tentu saja, kau akan menjadi sehebat Ayah.. Bahkan mungkin kau bisa melebihi Ayah..” Kulihat orang itu sama dengan yang kulihat di lukisan tadi..
“Lihat saja, suatu saat nanti aku akan mengalahkan Ayah!” Diriku yang masih kecil terlihat begitu riang dan ceria..
Orang itu lalu tertawa..
“Kenapa Ayah tertawa? Ayah tidak percaya aku bisa mengalahkan Ayah?” Diriku yang masih kecil terlihat cemberut, karena merasa ditertawakan..
“Bukan begitu anakku, kalau kau ingin mengalahkan Ayah berarti kau harus rajin berlatih dan belajar..” Suara orang itu terdengar lembut..
“Tuan, Tuan Tarintus..” Terdengar sebuah suara memanggil orang itu..
Kulihat asal suara itu.. Kulihat Asfard tapi terlihat lebih muda dari yang sekarang..
“Ah, ada apa Asfard?” Orang itu ternyata bernama Tarintus..
“Saya hanya ingin mengingatkan, sekarang sudah waktunya Nona Lucia berlatih..”
“Ooohh, baiklah..” Ayah lalu melihat diriku yang masih kecil..
“Aaahh, aku malas berlatih, aku kan sudah hebat Asfard!” Diriku yang masih kecil terlihat menyombongkan dirinya..
“Jangan begitu Lucia, kau bilang ingin mengalahkan Ayah? Kau harus banyak berlatih!” Suara Ayah terdengar penuh pengertian..
“Ayo Nona, kita berlatih sekarang..” Asfard lalu menggandeng tanganku..

Lalu aku kembali ke ruangan tadi..
Tidak terasa air mataku menetes, aku menangis sesenggukan..

Http://forum.lytogame.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s