Luruskan niat :Tulisan Santi Soekanto sebelum Mavi Marmara digiring Israel


—– Pesan Diteruskan —-
Dari: winda priandita <papayaz_27@yahoo. com>
Terkirim: Sel, 1 Juni, 2010 12:13:53
Judul: [hmp_itb] Tulisan
Santi Soekanto sebelum Mavi Marmara digiring Israel

Assalamualaikum.

Mungkin ada yang belum baca.
Bagus nih buat renungan.
Buat baca-baca aja juga boleh, bagus tulisannya.

———— ——— ——— ———

Santi Soekanto (istri dari Dzikrullah Pramudya yang dikabarkan merupakan salah satu korban tewas) adalah salah satu dari 12 WNI di kapal Mavi
Marmara yang  diserbu Israel.
Sebelum penyerbuan itu, Santi sempat
mengirimkan surat  elektronik yang sangat menyentuh.

Berikut tulisannya :

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil  dari Pantai Gaza.
(ket. satu hari sebelum serangan Israel).

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini  berhenti bergerak
karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya  sebuah lagi kapal
dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen  beberapa negara
Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla  menuju Gaza.
Kami
masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita  berbagai ancaman
Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk  melewatkan waktu – banyak di antara kami yang
membaca Al-Quran, berzikir  atau membaca.
Ada yang sibuk mengadakan
halaqah.
Beyza Akturk dari  Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab
untuk peserta Muslimah Turki.
Senan Mohammed dari Kuwait mengundang
seorang ahli hadist, Dr Usama  Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits
Arbain an-Nawawiyah secara  singkat dan berjanji bahwa para peserta
akan mendapat sertifikat.

Wartawan  sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran
perjalanan-perjalan an ke  Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang
petantang-petenteng memasuki  ruang media sambil menyatakan bahwa dia
“tangan kanan” seorang politisi  Inggris yang pernah menjadi motor salah
satu konvoi ke Gaza.

Activism

Ada  begitu banyak activism, heroism. Bahkan ada seorang peserta kafilah
yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of
Islam” alias “Para Pahlawan Islam.”
Di sinilah terasa sungguh betapa
pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah
Ta’ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena  mendapat
perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar  sementara
para peserta lain tidak.
Yang berposisi penting di negeri  asal,
misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri  penting
karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau  dibiarkan riya akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan
semua  kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih
air laut  yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina
karena menjadi  sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu,  ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan
pekejaan menyita kesempatan  untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh
perlu bagiku untuk mengerem  dan mengingatkan diri sendiri.
Apa yang kau
lakukan Santi? Untuk apa kau  lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya
kau berlindung kepada Allah dari  ketidakikhlasan dan riya?
Kau pernah
berada dalam situasi ketika orang  menganggapmu berharga, ucapanmu patut
didengar, hanya karena posisimu di  sebuah penerbitan? And where did
that lead you?
Had that situation led  you to Allah, to Allah’s blessing
and pleasure, or had all those times  brought you Allah’s anger and
displeasure?

Kalau hanya sekedar  penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini,
Subhanallah, sungguh banyak  orang yang jauh lebih layak dihargai oleh
seisi dunia di  sini.
Mulai  dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim
sampai seorang Muslimah muda  pendiam dan shalihah yang tidak banyak
berbicara selain sibuk membantu  agar kawan-kawannya mendapat sarapan,
makan siang dan malam pada  waktunya.
Dari para ulama terkemuka di atas
kapal ini, sampai beberapa  pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk
membersihkan bekas puntung  rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau  hanya sekedar penghargaan  manusia yang kubutuhkan di sini,
Subhanallah, di tempat ini juga ada  orang-orang terkenal yang
petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua  berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang
teriakannya memenangkan ridha Allah?
Hanya Allah yang tahu.

Gaza  Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan  diriku bahwa Al-Quds
tidak membutuhkan aku.
Gaza tidak membutuhkan aku.
Palestina tidak
membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan  hanya membutuhkan pertolongan Allah.

Gaza hanya butuh Allah. Palestina  hanya membutuhkan Allah.
Bila Allah
mau, sungguh mudah bagiNya untuk  saat ini juga, detik ini juga,
membebaskan Masjidil Aqsha.
Membebaskan  Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini,  suamiku Dzikrullah-lah yang butuh
berada di sini karena kami ingin Allah  memasukkan nama kami ke dalam
daftar hamba-hambaNya yang bergerak –  betapa pun sedikitnya – menolong
agamaNya.
Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh  mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya
Aqsha.  Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara  kesamaan antara seruan lisan dengan
seruan hati.

Cara Allah  Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu.
Namun Allah  selalu punya cara
terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku  ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena
tak mungkin  mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa
pun gerah dan  bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata  toilet jongkok yang
dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat  itu dalam keadaan
mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat  menyumbat
lubangnya!
Apa yang harus kulakukan?
Masih ada satu bilik  dengan toilet
yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak
bertanggung- jawabnya aku rasanya?
Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak
bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii
sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah
sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah  berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil.
Kotoran itu
ndableg  bertahan di situ.
Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi
dengan  air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena
semua  peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu
kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg.

Kucoba lagi menyiram

Masih  ndableg.

Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri

Kubungkus  tanganku dengan tas plastik.
Kupencet sekali lagi tombol
flush.
Sambil  sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan
kiriku ke lubang  toilet.

Blus!

Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa  entah kemana

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk  membersihkan diriku sebaik
mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan,  namun tetap saja aku merasa
tak bersih.
Bukan di badan, mungkin, tapi di  pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian  tadi – agar aku berendah-hati,
agar aku ingat bahwa sehebat dan  sepenting apa pun tampaknya tugas dan
pekerjaanku, bila kulakukan tanpa  keikhlasan, maka tak ada artinya atau
bahkan lebih hina daripada  mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin

Allahumaj’alni  minal mutatahirin

Allahumaj’alni min ibadikassalihin

29 Mei  2010, 22:20

Santi Soekanto,

Ibu rumah tangga dan wartawan yang  ikut dalam kafilah Freedom Flotilla
to Gaza Mei 2010

4 thoughts on “Luruskan niat :Tulisan Santi Soekanto sebelum Mavi Marmara digiring Israel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s