Penghancur Agama


Sebenarnya ini terinspirasi dari suatu artikel yang kubaca ketika iseng2 browsing liat2 blog orang laen. Berhubung cukup bagus, maka kutulis ulang dengan kata2ku sendiri, jadi maaf ya kalau agak ga karuan kata2nya😀

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, kehancuran agama (khususnya Islam) dimulai dari  4 hal, yaitu: (1) Anda tidak mengamalkan apa yang Anda ketahui; (2) Anda mengamalkan apa yang Anda tidak ketahui; (3) Anda tidak mencari tahu apa yang Anda tidak ketahui; (4) Anda menolak orang yang mengajari Anda apa yang tidak Anda ketahui

1. Tidak mengamalkan apa yang diketahui.

Sebenernya ini adalah resiko dari yang namanya menuntut ilmu. Menuntut ilmu ga cuma disekolah lho, tapi bisa saja melalui forum2, artikel2 di internet, pengajian2, dll. Tapi kesemuanya akhirnya menuntut yang namanya pengamalan. Percuma dong kalau punya  ilmu banyak tapi tak diamalkan. Bukankah salah satu amal yang takkan terputus adalah ilmu yang bermanfaat???

Allah SWT tidak menyukai orang yang banyak tahu agama, bahkan banyak ngomong masalah agama, tetapi tidak melaksanakan apa yang dia ketahui dan sering dia diomongkan, seperti firman Allah berikut:

“Sungguh besar kebencian Allah karena kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (QS ash-Shaff [61]: 3).

Lebih dari itu, banyak tahu (punya banyak ilmu, salah satunya ilmu agama) tetapi tidak mengamalkannya adalah sia-sia. Mungkinkah ilmu yang kita dapatkan akan bermanfaat ketika tidak diamalkan???

Karena itu, sangat disayangkan jika orang yang punya ilmu tetapi sedikit mengamalkan ilmunya tersebut. Misal: Masih banyak Muslim yang tahu bahwa shalat, shaum dan zakat itu wajib dan termasuk dalam rukun Islam, namun mereka tidak melaksanakannya. Banyak Muslimah yang tahu menutup aurat/berjilbab itu wajib, tetapi enggan melakukannya (di sekitar kita banyak banget dijumpai, mungkin ni kan dibahas dilain artikel). Banyak pejabat, pegawai pemerintah, polisi, jaksa, hakim dll yang tahu suap dan korupsi itu haram/dosa, namun mereka tetap melakukannya. Banyak Muslim yang tahu bahwa menegakkan syariah Islam itu wajib, tetapi tidak berusaha memperjuangkannya, seolah-olah itu bukan urusannya. Banyak tokoh kiai yang tahu bahwa riba itu haram tetapi tidak pernah mencegah Pemerintah yang nyata-nyata berutang ke luar negeri dengan bunga (riba) yang sangat ’mencekik’. Banyak pula aktivis dakwah yang tahu menjaga amanah dan memelihara akad itu wajib, tetapi sering melalaikan dan mengabaikannya. Akibatnya tak heran kalau rakyat Indonesia ( terutama ummat muslim di Indonesia ) banyak yang kelaparan, kemiskinan, dan terbelakang. Yang paling parah lagi, ketika kasus Ponari, bahkan air comberan disekitar rumah Ponari pun dianggap bisa menyembuhkan. Padahal kalau masih waras, mereka pun tau kalau air comberan malah bikin penyakit. Bukankah itu tidak mengamalkan apa yg mereka ketahui???

2. Mengamalkan apa yang tidak diketahui.

Tidak sedikit orang yang awam agama melakukan banyak hal yang dia sendiri tidak tahu status hukumnya apakah halal atau haram ataupun mubah. Contoh:

Tidak sedikit Muslim berbisnis saham/valas, melakukan transaksi kredit barang lewat lembaga leasing seperti menjamur saat ini, terlibat dalam bisnis asuransi, menjadi staf keuangan bank berbasis riba, mengadu untung dalam kuis via sms, dll.

Tidak sedikit Muslim/Muslimah yang memandang baik profesi sebagai artis (penyanyi, penari, pemain film/sinetron dll)—yang biasanya akrab dengan atraksi membuka aurat, berkhalwat dan ber-ikhtilat, serta ragam maksiat lainnya; bahkan mereka berlomba-lomba meraihnya.

Semua itu mereka lakukan karena mungkin tidak tahu keharamannya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya),

Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka tertolak.” (HR Muslim).

3. Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya.

Banyak Muslim/Muslimah yang sadar dirinya awam dalam agama, tetapi tidak terdorong untuk mempelajari dan mendalami agama (taffaquh fi ad-din). Mereka terkesan menikmati dengan kebodohannya dalam agama. Tidak sedikit pula hal ini melanda para aktivis dakwah. Misal: tidak sedikit mahasiswa sekarang yang malas membaca Al Qur’an (termasuk saya :D). Yang jelas no comment dari aku buat point ini, coz takutnya cuma bisa nulis ga bisa mengamalkan.

4. Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya.

Tidak sedikit Muslim yang karena kesombongannya menolak ketika orang lain mengajari (baca: mendakwahi)-nya. Memang sih orang biasanya ga mau kalau “didakwahi”, apalagi kalau yang “mendakwahi” tersebut orang yang relatif lebih muda, atau yang tingkat pengetahuannya tak jauh beda dengan dia. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), “Sombong itu menolak kebenaran.” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Tidak sedikit pula yang enggan belajar kepada orang lain hanya karena orang lain itu lebih muda, karena lebih rendah tingkat pendidikan formalnya, karena dari kelompok/mazhab/harakah/partai yang berbeda, atau karena faktor-faktor lain.

Masih ingat jelas, pernah kawanku cuma mengeluarkan statement tentang “PACARAN” itu tidak baik. Akhirnya cukup banyak penentangan, padahal apa yang ia katakan itu benar. Seperti itukah pemuda muslim sekarang??? setidaknya katakan benar kalau itu benar, katakan salah kalau memang salah. Meski pada akhirnya harus mengakui kalau ia melakukan hal yang salah.

******

Keempat hal di atas sudah jelas telah menghancurkan agama pada diri seorang Muslim ataupun di tengah-tengah masyarakat. Saya sendiri cuma ingin mengingatkan pada saudara2 ku smuanya (tentu juga pada diri sendiri) kalau kejayaan Islam berada pada ummat muslim sendiri. Yang jelas dengan 4 hal diatas berakibatnya nyata:

Hukum-hukum Allah dicampakkan dan dijauhkan. Hukum-hukum thaghut diterapkan dan dilestarikan. Kewajiban-kewajiban agama banyak ditinggalkan. Larangan-larangannya sering dilakukan dan bahkan jadi kebiasaan. Yang halal disembunyikan. Yang haram ditonjolkan. Yang sunnah enggan diamalkan. Yang bid’ah malah dibesar-besarkan. Adat menjadi ibadat. Ibadah bercampur dengan khurafat dan maksiat.

Demikianlah, akhirnya Islam sekadar sebutan; al-Quran sekadar jadi bacaan; as-Sunnah pun terlupakan. Saat itu, sebagaimana isyarat Nabi saw., Islam kembali menjadi sesuatu yang asing, persis sebagaimana awal kedatangannya. Sesuai dengan Sabda Nabi saw:

Islam mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan nanti akan kembali dianggap asing. Berbahagialah orang-orang yang dipandang asing, yakni mereka yang selalu melakukan perbaikan-perbaikan di tengah-tengah masyarakat yang berlomba-lomba melakukan kerusakan-kerusakan.” (HR Ahmad).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s