Demo


Aku sendiri sih belum pernah ikutan demo, dan untuk saat ini tak ada niat sama sekali untuk ikutan demo. Sungguh tak bijaksana ketika blom pernah melakukan kok mengomentari, jadi sengaja kubuat artikel ini dengan narasumber yang dirahasiakan. Diharapkan setelah membaca artikel ini, para pengunjung blog-ku bisa menganalisa sendiri gimana si demo2 di Indonesia? trutama menganalisa gimana demo yang terjadi Senin pagi, 3 Mei 2010.

Senin pagi 3 Mei 2010, ada acara cukup menarik di balai senat, yaitu kuliah umum bersama Pak Wapres. Sebenernya acara ini menuai kontroversi, karena ada pihak yang mendukung dengan menghadiri acara tersebut, ada pula pihak yang menolak dengan mendemo acara tersebut. Sebelum acara dimulai, terjadi percakapan cukup menarik antara diriku dengan seseorang yang pernah ikut demo dan ku yakin banyak yang kenal, sebut saja Mr.X. Awalnya si kurang lebih sperti ini:

Aku: “Eh, katanya kemarin ada demo ya, kan kemarin aku sampe sore di kampus, trus pulang2 ditanyain kakakku, kamu nggak ikut demo kan dik?”

Mr.X : “Aku juga di sms temenku, dia tanya kemarin ikut demo nda? Lha wong ikut kuliah mana mungkin ikut demo”

Setelah itu, jadinya ngobrol masalah demo. Nah ada beberapa statement dia yang cukup menarik, tapi berhubung ku gag mungkin menulis persis sperti apa yang sebenarnya dia katakan, jadi ku menulis yang kuingat saja. Insya Allah inti dari apa yang kutuliskan gag jauh beda ma waktu itu dia katakan,

Mr.X: “Demo itu adalah pilihan terakhir, jadi sebelum demo ada proses2 terlebih dahulu, sperti musyawarah dll, nah kalau cara2 tersebut gag berhasil, kita baru ngadain demo”

Mr.X: “Sebelum aku ikut demo, aku tanya2 dulu, tujuan mendemo? apa ada pihak yang menunggangi? kemudian apakah cara2 lain sudah dilakukan?, nah kalau udah mantap, baru ikutan. Yang jelas gag mau la ikutan demo asal2an, coz demo tuh gag enak, capek, panas2an dsb”

Mr.X: “Kalo si *****, menurutku dia terlalu aktif buat demo2, dia juga pernah sampe Jakarta, kalau demonya aja sperti itu, dimana letak idealisme seorang mahasiswa?”

Mr.X: “Fotoku juga pernah masuk Koran *********, bener2 terpampang jelas tuh, (kemudian dia memperagakan), posisiku disitu (menunjuk tempat dudukku), kemudian temenku disini (menunjuk tempat duduknya), trus yang motret dari situ (nunjuk depan kananku), Nah bapakku (agak lupa si, kalo nggak bapak ya kakek) langganan Koran, trus aku nanya ada Koran tanggal ……… (lupa tanggalnya), trus dijawab ada, n ternyata pas itu belinya S*** ***. Waktu itu kalau beli ********* bisa mati saya”

Mr.X: “Pas rapat digelanggang (katanya si berkumpul mahasiswa se-UGM), bahkan ada yang sampe ngangkat2 kursi segala, aku yakin kalau mereka menuruti hati nurani, mereka bakal mengiyakan, berhubung menurutku ada yang memboncengi jadi anarkis gitu”

Mr.X: “Menurutku kamu mending sekali2 ikut demo, ikut demo bener2 bisa ngrasain rasanya penderitaan rakyat”

Untuk statement yg kutulis paling bawah ini, aku menimpali, “Kalau pengen ngrasain penderitaan rakyat menurutku mending ikutan baksos, bener2 bisa membaur ma masyarakat”

Yang jelas tulisan2 diatas hanya mencerminkan pendapat Mr.X dan pendapatku saja, secara umum gag terlalu beda pandanganku dengan pandangan Mr.X. Mungkin perbedaan hanya terlihat pada statement Mr.X yang kutulis paling bawah. Namun kalau boleh aku menganalisa demo yang terjadi tuk menolak kedatangan Pak Wapres kemarin, rasanya terlalu berlebihan. Sebenernya kalau melihat kasusnya Pak Wapres wajar sih kalau kawan2 melakukan hal tersebut. Namun realitanya, ketika diluar cukup banyak mahasiswa yang demo (cuma tau dari TV si), yang didalam ada lebih dari 80 mahasiswa yang mengikuti kuliah umum dengan baik. Ketika diluar mereka mengkritisi dengan suara lantang dan belom tentu didengar, didalam ada yang mengkritisi dengan nada bersahabat dan jelas didengar oleh Pak Wapres langsung. Ketika diluar menggunakan cara “terakhir”, yang didalam menggunakan cara awal yaitu musyawarah. Inilah demokrasi, setiap orang boleh menyuarakan suaranya dengan cara masing2, asal tidak melanggar peraturan

Diriku sendiri si berbaik sangka diantara sekian banyak yang mendemo tidak cuma ikut2an, pasti ada yang masih memegang idealisme. Tapi pertanyaannya, berapa persenkah yang masih memegang idealisme? mencapai 90% kah? 70%? 50%? 30%? ataukah hanya 1% saja?

5 thoughts on “Demo

  1. Demo(nstrasi) itu ibaratnya kalau badan gatel ya digaruk. Menurut saya demo itu saat ini penuh dengan nafsu dan emosi semata. Tak adakah demo yang santun dan bijak? Kalao saya tak salah ingat, dahulu kala di Keraton Yogyakarta kalau rakyat merasa gundah, mereka duduk diam membisu di alun-alun Keraton untuk mengundang perhatian raja.

    • Stuju ma mas Wijna, kalo pengen demo yg santun n bijak ya ikutan demo masak aja, apalagi kalo kebagian makanan,, nikmaaaat….

  2. Aku lebih memilih hadir sebagai pengamat daripada penggerak.
    Aku lebih memilih untuk tetap berjalan di jalanku, menuntaskan kewajibanku (terlebih dahulu).

    • Itulah demokrasi, setiap orang diberi kebebasan untuk memilih… tapi sebagai patriot sejati, kan memilih tuk memajukan bangsa dan negara dibanding kepentingan sendiri, dengan cara masing2 tentunya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s