Mubadzir


Iseng2 baca2 artikel2 yang kira2 menarik di internet, akhirnya berhentilah disuatu kisah yang mnurutku sangat menarik. Judulnya aku agak lupa, kliatannya sih kisah pencuci piring. Kisah tersebut menceritakan tentang pencuci piring disuatu acara pernikahan yang bersedih karena melihat banyak makanan yang terbuang sia-sia. Tau sendiri lah, hidangan pada pesta pernikahan tentu istimewa dan tak seperti makanan biasa. Alangkah sia2 kalau sisa2 makanan yang dipiring para tamu tersebut akhirnya dikumpulkan dan dibuang. Padahal seandainya para tamu mengambil makanan tidak berlebihan, tentu saja hal tersebut takkan terjadi. Biar lebih jelas, kucuplik aja beberapa paragraph terakhir tentang kisah tersebut:

“Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu. ”

Masih teringat, ketika kecil dulu aku sering diingatkan oleh kedua orangtuaku supaya mengambil makanan tu harus dimakan sampai habis. Kata mereka, kalau tidak habis itu namanya mubadzir, dan kalau suka mubadzir tu jadi temennya setan. Nah, berarti yang jadi tamu suatu pernikahan banyak yang temennya setan dong. Trus, gimana tuh nasibnya sang pengantin ketika yang hadir pada pesta pernikahannya adalah teman2nya setan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s